Panen ikan bersama keluarga

Panen ikan bersama keluarga

 

Ini pengalaman pertama saya bisa panen ikan bersama keluarga besar , iya biasanya setiapa kali panen ikan Uwa saya (panggilan untuk kakak dari bapak di jawa) selaku pemilik empang (kolam peternakan ikan) selalu memanggil keluarga besar laki- lakinnya ikut bergabung untuk bantu-bantu dan menciptakan momen kekeluargaan plus bagi- bagi rezeki, tetapi berhubung saya lama menghabiskan waktu di tanah orang lain lebih tepatnya di pesantren ini lah momen pertama saya setelah lulus MA bisa ikut bergabung dengan mereka.

Pada malam hari bapak saya di hubungi melalui telfon oleh paman saya di ajak bergabung bersama untuk penen ikan esok hari dan saya pun di ajak ikut juga, yaa walaupun belum mempunyai keahlian apa- apa dalam hal panen memanen ikan tapi lumayan buat rame- rame 😀 .

Persiapan dan perjalanan

Hari esok pun tiba sekitar jam 6 pagi kita bersiap- siap berangkat biasanya sebelum berangkat kita kumpul dulu di rumah Uwa untuk membawa peralatan yang di butuhkan, setelah semua peralatan pun siap kita sama- sama berangkat menuju empang yang jaraknya lumayan jauh di dekat laut sana sekitar 3 km dari rumah, karena istilah empang yang kita sebutkan di daerah Cirebon itu peternakan ikan yang letaknya dekat dengan pantai dan airnya pun langsung dari laut.

Perjalanan pun kita mulai, kita lalui perjalanan melewati jalanan yang membuat badan kita selalu bergoyang- goyang berasa naik delman :D, iya karena jalan yang kita lewati masih di penuhi dengan bebatuan, walaupun begitu, pemandangan indah di kanan dan kiri jalan yang begitu menawan bisa mengobati itu semua, di kanan jalan terdapat hamparan sawah yang hijau yang membuat mata terasa sejuk melihatnya dan di samping kiri jalan terdapat sungai yang memanjang mengikuti kita sampai tepi pantai yang membuat mata terasa segar melihatnya belum lagi udara segar pesawahan yang tak bosan- bosannya untuk kita nikmati setiap hirupannya.

Saat-saat yang di tunggu

Setelah melalui perjalanan yang lumayan mengesankan akhirnya sampai juga di tempat yang di tuju, kita pun duduk sejenak kemudian menyiapkan mesin untuk membuang air dari empang ke luar supaya memudahkan kita dalam proses memanen nanti, proses pembuangan air sendiri lumayan memakan banyak waktu karena mesin yang di gunakan beberapa kali memiliki kendala seperti macet dan lain- lain.. bagi saya yang tak faham masalah mesin saya manfaatkan waktu ini untuk berkeliling- keliling melihat empang Uwa yang katanya memiliki panjang 500 meteran lumayan bikin kaki pegel juga, setelah air empang mulai surut kita tidak langsung memanen ikan begitu saja, biasanya klo di sini kita kasih obat kaporit dulu supaya ikan-ikan pada mabuk dan memudahkan kita untuk mengambil.. iya lagi- lagi kita harus menunggu sampai ikan ikan-ikan mabuk tapi penungguan kali ini santai tidak terlalu lama seperti menguras air empang.

Waktu memanen pun di mulai setelah ikan- ikan mulai mabuk satu persatu dari kita mulai masuk ke empang dengan wadah ikan masing- masing, jalur pengambilan ikan pun kita bagi satu jalur yang di lewati minimal dua orang atau lebih yang memanen, orang bagian pertama untuk mengambil ikan yang nampak jelas mengambang dan orang yang bagian kedua mendapat bagian ikan yang di dalam lumpur yang terlewat orang pertama saya sendiri mendapat bagian jadi orang kedua bersama sepupu saya yang mengambil sisa- sisa ikan yang terlewat di dalam lumpur walaupun di sebutnya ikan- ikan sisa saya rasa ini panen yang sesungguhnya 😀 iya karena di bagian pertama hanya lewat saja dengan mengambil ikan- ikan yang mengambang di atas sedangkan bagian yang kedua butuh pengorbanan yang lebih untuk mencari- cari ikan di sela- sela lumpur ya walaupun begitu kita jalani semuanya dengan senang- senang kapan lagi kita bisa main lumpur kalau bukan di sini :v.

Pengambil sisa-sisa ikan yang terlalu memaksakan

Saya sendiri bingung mau di sebut apa untuk orang- orang ini, konon setiap ada orang yang ingin panen ikan biasanya berita menyebar, dan orang- orang ini siap menunggu sampai panen ikan selesai, saya sendiri awalnya tidak tahu ini orang- orang dari mana yang awalnya saya kira dari pegawai Uwa saya karena ketika saya memanen ikan dia meminta mengumpulkan ikan yang saya dapat untuk di taroh di tempat dia  walaupun 1- 2 ikan , ya maklum lah karena saya orang baru jadi tidak begitu faham. Setelah beberapa lama saya pun baru menyadari kalau orang-orang ini bukan pegawai dari paman saya kebetulan ketika itu saya sedang naik ke atas daratan dan di dalam empang masih ada sepupu saya yang masih mengambil ikan di lewati dengan orang- orang tadi yang mana pendapatan orang- orang tadi lebih banyak dari sepupu saya maka seketika terdengar teriakan dari istri Uwa saya yang membentak orang- orang tadi karena telah menyalahi aturan main yang seharusnya para pengambil sisa-sisa ikan ini mengambil setelah kita selesai memanen, akhirnya orang- orang tadi pun mulai menepi dengan pendapatan ikan yang sudah cukup memuaskan menurut saya karena lumayan sudah memenuhi plastik- plastik besar yang mereka bawa.

Pesta kecil-kecilan

Panen ikan pun selesai dengan sedikit drama kecil yang masih menempel di ingatan saya, seperti biasanya setelah panen selesai kita kumpul- kumpul di rumah kecil di dekat empang yang biasa kita sebut dengan gubuk di situlah kita melepas lelah dan bercanda ria bersama keluarga besar di sambili dengan bakar- bakar ikan hasil panen tadi sebisa yang kita makan mulai dari ikan bandeng, ikan kakap dan ikan mujair, tapi ikan kakap dan ikan mujair ini hanya ikan tambahan yang mungkin nyelip- nyelip di bibit ikan bandeng, karena fokus ternak Uwa saya yaitu ikan bandeng.

Menghitung hasil panen dan bagi-bagi rezeki

Setelah pesta kecil- kecilan selesai mulailah kita menghitung hasil panen, biasanya setiap panen ikan, kita memanggil pengepul ikan untuk datang ke tempat panen supaya ikan- ikan hasil panen langsung di jual di tempat tanpa harus di bawa- bawa ke pengepul di situlah kita mulai menimbang dan menghitung harga plus di sisakan buat di di bagi- bagi ke keluarga, setelah semuanya selesai mulailah kita bersiap- siap pulang ke rumah masing- masing dengan membawa bingkisan ikan dari hasil panen tadi.

Iya mungkin itu lah cerita dan kesan pertama saya bisa ikut bergabung panen ikan bersama keluarga,  terlihat sederhana namun penuh dengan makna di momen- momen seperti inilah kadang kita suka melupakan hal- hal kecil yang sebenarnya di situ bisa mempererat kekeluargaan.

 

 

 

Leave a Reply