Mencari Harapan di Jakarta (2)

Mencari Harapan di Jakarta (2)

Cerita ini melanjutkan dari cerita saya sebelumnya, tentang pengalaman saya ketika ingin mencari sebuah harapan baru di kota Jakarta. Mulai dari persiapan untuk menuju kota harapan hingga masalah-masalah yang dihadapi.

Dengan berbagai kejadian-kejadian yang kami alami di sana. Bisa anda baca cerita lebih lengkapnya di sini, mungkin ada pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman saya kali ini.

Hari Pertama Ujian

Hari Pertama Ujian
Sumber : Pixabay

Di hari pertama kami ujian, kami mendapat soal-soal yang terlihat mudah tapi cukup memakan pikiran. Kita diberi 100 soal pilihan ganda yang terdiri dari lima mata pelajaran.

Mata pelajaran yang diujiakan :

  1. fahmul masmu’ (mendengarkan Syaikh berbicara dan mencocokkan dengan yang ada di kertas soal) kalau dalam bahasa inggris diistilahkan dengan listening.
  2. Kaidah-kaIdah bahasa arab, yang mencakup ilmu nahwu dan sharaf.
  3. Tentang syariah yang mencakup ilmu fiqih, tafsir dll.
  4. Wawasan keislaman, tentang sejarah islam, waktu diwajibkan suatu ibadah dll.
  5. Ilmu balaghoh, tentang sastra arab.

Yang masing-masing mata pelajaran terdiri dari 20 soal pilihan ganda dan semua soal-soal tadi menggunakan bahasa arab.

Setelah ujian pertama selesai, kami berkumpul di halaman depan kampus dan sedikit berbincang-bincang tentang ujian yang baru kami hadapi. Yang ternyata bukan hanya saya mengalami beberapa kesulitan.

Untuk menghilangkan penat kami pun langsung pulang menuju kontrakan dan beristirahat.

Hari Penantian

Hari Penantian
Sumber : Pixabay

Setelah ujian pertama selesai, kami masih harus menunggu dari hasil ujian tadi, untuk bisa mengikuti ujian tes kedua nanti. Hari penantian terbilang cukup lama sekitar tiga hari, sehingga untuk mengisi ke kosongan ini kami manfaatkan untuk jalan-jalan ke tempat wisata.

Berhubung perbekalan uang yang kami bawa tidak terlalu banyak, kami pun memutuskan untuk berwisata ke tempat yang ramah kantong. Kami jalan-jalan ke tempat wisata terdekat dari kontrakan yaitu kebun binatang Ragunan dengan biaya masuk yang terbilang sangat murah untuk melihat-lihat berbagai satwa yang ada di Indonesia.

Di hari-hari penantian ini walaupun kita isi dengan hal-hal menyenangkan, tapi pikiran kita masih terikat dengan menunggu hasil ujian. Setelah kita menunggu kurang lebih dua hari, akhirnya muncul juga nama-nama calon mahasiswa yang akan mengikuti tes kedua di esok hari, di hari ketiga penantian.

Alhamdulillah nama saya masuk ke daftar calon mahasiswa baru yang akan mengikuti tes besok. Dari teman-teman seperjuangan yang berangkat bersama, hanya 5 orang yang lolos dalam tahap ini.

Ini sudah memasuki babak penyisihan kedua, dan kami yang lolos dalam tahap ini pun masih belum merasa aman karena masih ada babak penyisihan berikutnya.

Musibah Musiman

Musibah Musiman
Sumber : Pixabay

Pada malam hari sebelum ujian kedua dimulai, daerah tempat tinggal kami tertimpa musibah musiman yang sudah menjadi khas kota Jakarta. Kejadian ini terjadi di tahun 2016 yang katanya setiap tahun selalu ada banjir seperti ini, satu tahun bisa 2 kali terkena banjir.

Bagi orang-orang yang tinggal di sini mungkin terlihat biasa, tapi bagi kami yang pendatang baru, ini cukup mengagetkan. Waktu itu sekitar jam 4 pagi, di waktu-waktu orang masih tidur terdengar suara ramai-ramai dari luar kontrakan.

Banjiirr… banjiirr…

Setelah kami terbangun, ternyata air sudah mulai masuk ke ruangan. Biasanya ketika baru bangun, mata masih terlihat sayup-sayup, tapi kala itu mata kami langsung terlihat segar, karena kaget melihat air yang masuk ke ruangan tidur.

Tapi ada aja kejadian lucu dari teman kami, ketika semua orang terbangun kaget ketika ada teriakan orang-orang sekitar, teman yang satu ini masih belum terbangun juga, sampai ada yang menarik dia 😀 .

Setelah itu kami langsung membereskan semua barang-barang yang ada di ruangan, ke tempat yang lebih tinggi, mulai dari barang-barang elektronik, kasur, buku-buku, hingga tas-tas yang kami bawa.

Kebetulan kakak teman kami ini (pemilik kontrakan) ada juga ruangan yang dia sewa di samping kontrakan memiliki dua lantai. Sehingga memudahkan kami dalam mengamankan barang-barang dari banjir.

Hari Kedua Ujian

Hari Kedua Ujian
Sumber : Pixabay

Di saat-saat banjir seperti ini, kami masih memiliki tugas yang harus diselesaikan di waktu itu juga. Banjir kala itu mencapai setinggi badan orang dewasa, yang masuk ke ruang kontrakan, karena ruang kotrakkan kami memang berada di dataran lebih rendah dibanding tanah sekitar.

Waktu ujian sendiri dimulai jam 8 pagi kita harus sampai kampus. Selain ditemani banjir kala itu juga cuaca sedang gerimis, sedangkan jarak dari kontrakan ke kampus lumayan jauh, jadi mengharuskan kita naik angkutan umum.

Di tengah-tengah cuaca gerimis kami menunggu kopaja yang lewat, sekitar 5 menit baru terlihat. Ini juga pengalaman pertama naik kopaja di Jakarta.

Sesampainya di kampus kami pun turun dari kopaja, dan segera memasuki kampus bersama teman-teman lain yang kebetulan sama-sama baru datang dengan pakaian yang sedikit basah.

Ujian kali ini berbeda dengan ujian yang sebelumnya. Yang sebelumnya kami ujian di ruang kelas, sekarang ujian dilaksanakan di ruang Mushola kampus, jumlah calon mahasiswa waktu itu sekitar 400 orang lebih, berkumpul di satu ruangan, ini sedikit menambah ketegangan buat kami.

Ujian kedua ini, ujian syafahi bisa disebut juga ujian lisan atau wawancara. Kala itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok barisan, sesuai dengan yang telah diumumkan, dan disetiap bagian depan barisan ada 4 orang syaikh yang siap menguji kami.

Satu persatu para peserta tes mulai dipanggil. Ketika giliran saya, saya pun maju kedepan dan bersalaman dengan seorang syaikh, mulailah saya di tes diantara tes-tesnya :

  • Di tanya tentang nama dan sekolah terakhir.
  • Di suruh membaca Al-qur’an.
  • Di suruh menyebutkan rukun islam dan rukun iman.
  • DI suruh menjelaskan tentang kota tempat tinggal.
  • DI tanya tentang nama-nama jazirah di arab

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mendasar, yang pada intinya ini hanya ingin melihat kemahiran kita dalam berbicara bahasa arab

Hari-hari penantian kedua

Hari-hari penantian kedua
Sumber : Pixabay

Setelah kami selesai dari tes wawancara, kami masih harus menunggu lagi hasil dari tes kemarin. Waktu itu kami sedikit bingung antara langsung pulang ke kampung halaman atau menunggu hasil di Jakarta, akhirnya kami menunggu sekitar dua hari di Jakarta namun pengumuman nama-nama yang lulus belum juga keluar.

Setelah penantian kedua tak kunjung reda, kami pun pulang ke kampung halaman sambil berharap hasil dari tes kemarin segera muncul.

Kalau tidak salah waktu itu, selang satu minggu akhirnya muncul juga nama-nama yang lulus, namun nama saya tidak tercantum di nama-nama yang lulus.

Melainkan nama saya hanya muncul di daftar calon mahasiswa baru cadangan, pikiran pun belum tenang karena belum ada yang memastikan nama-nama cadangan ini bakal dipanggil atau tidak.

Lagi-lagi menunggu harap-harap cemas selama berbulan-bulan. Ada beberapa kabar yang berseliweran kalau tahun-tahun sebelumnya nama-nama mahasiswa cadangan ini dimasukkan ke semester depan, namun untuk tahun ini belum ada yang bisa memastikan.

Setelah penantian sekitar 5 bulan akhirnya muncul juga kepastian, kalau nama-nama cadangan dinyatakan tidak dipanggil di semester depan dengan artian tidak lulus.

Selesai sudah, sesuatu yang diharapkan masih belum tercapai, tapi itu bukan sebuah akhir. Tugas kita hanya berusaha dan do’a, setelah itu kita serahkan kepada Allah hasilnya.

اَلخَيْرُ خِيْرَةُ الله

“Yang terbaik itu pilihan Allah”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

This Post Has 2 Comments

  1. Ceritanya sangat menarik dan inspiratif kak, saya suka… saya suka…

    1. Terima kasih sudah mampir

Leave a Reply