Kenangan Rumah Masa Kecil

Kenangan Rumah Masa Kecil
Sumber : Pixabay

Zaman mulai banyak berubah, ada yang berpendapat zaman dahulu lebih bagus dari zaman sekarang. Ada juga pendapat, zaman sekarang lebih bagus dari zaman dahulu.

Iya tentu setiap pendapat di atas ada benarnya, tapi tergantung yang dinilai dari sudut yang mana. Saya tidak akan membahas tentang itu semua kali ini, di sini hanya menceritakan tentang kenangan rumah saya di zaman dahulu dengan zaman sekarang.

Suasana Alam Sekitar

Suasana Alam Sekitar
Sumber : Pixabay

Rumah saya terletak di sebuah desa di kabupaten Cirebon, keadaan alam yang dulu dengan sekarang jauh berbeda. Yang dahulu pohon-pohon di sekitar rumah masih terlihat sangat rindang, sekarang sudah mulai banyak yang ditebang karena berbagai alasan.

Dulu setiap nenek main ke rumah selalu membawa kesan-kesan yang baru tentang rumah kami. Mulai dari memuji udara yang masih segar alami, karena menyatu dengan alam pesawahan, hingga mengomentari tentang letak rumah kami yang sedikit jauh dari keramaian orang.

Kadang beliau suka nyletuk (komentar spontan) “Bikin rumah ko di hutan”. Iya memang letak rumah kami awal dibangun sangat sepi dari keramaian orang, samping kanan dan kiri semuanya hanya pepohonan rindang begitu juga dengan belakang rumah, dan sekitar 70 meter ke belakang sudah sampai di hamparan sawah yang sangat luas.

Sekarang sudah mulai banyak perubahan, samping kanan dan kiri sudah mulai ada rumah, dan di bagian belakang lebih banyak rumah lagi. Jalan samping rumah yang dahulu kalau musim hujan selalu becek, sekarang jalan sudah beraspal, yang menurut saya dari perubahan alam sekitar lebih banyak ke sisi positifnya dibanding sisi negatifnya.

Tempat Sholat dan Mengaji

Tempat Sholat dan Mengaji
Sumber : Pixabay

Di awal-awal orang tua bangun rumah, daerah sekitar rumah tidak ada Masjid maupun Mushola yang bisa dijadikan orang untuk sholat berjama’ah. Orang tua saya berinsiatif ketika membangun rumah, dibuat satu ruangan yang sedikit lebar untuk dijadikan Mushola sementara.

Pada awal rumah selesai dibangun, orang tua saya mulai memberitahukan ke warga sekitar, kalau tempat ini bisa dijadikan sholat 5 waktu dan tempat mengaji anak-anak. Setelah beberapa hari warga sekitar pun mulai banyak yang menitipkan anak-anak mereka untuk belajar mengaji di rumah.

Waktu mengaji anak-anak sendiri mulai dari waktu maghrib hingga waktu isya, sehingga suasana rumah sedikit berbeda dengan rumah umumnya, teman-teman main pun mulai banyak.

Untuk sholat 5 waktu sendiri di sini masih sedikit orang yang sholat, selain terhalang oleh jarak, banyak juga orang yang sibuk kerja dan lain-lain. Tapi berbeda lagi kalau sudah masuk ke bulan Ramadhan yang di hari biasa hanya sedikit, kalau sekarang bisa dibilang overload.

Suasana Ramadhan bisa dibilang suasana paling berbeda dan berkesan. Setiap malam Ramadhan di rumah kami selalu diadakan sholat tarawih untuk warga sekitar, dengan luas ruang Mushola yang pas-pasan, sehingga memaksakan para jamaah untuk sholat di berbagai sudut ruang rumah kami.

Mulai dari halaman rumah, ruang tamu, hingga ruang tv, semuanya terisi penuh oleh jamaah sholat tarawih. Yang awalnya itu semua hanya ruangan biasa, sekarang sudah bisa menjadi saksi untuk orang-orang yang sholat di atasnya.

Itu semua bertahan lumayan lama sekitar 8 tahun, rumah kami dijadikan tempat sholat. Alhamdulillah di dekat rumah kami sekarang sudah dibangun Mushola yang lebih besar dan bisa menampung banyak jamaah sholat.

Tapi perbedaannya dulu banyak anak-anak yang mengaji, kalau sekarang hanya beberapa anak saja yang mengaji. Selain kurangnya kesadaran orang tua, perubahan zaman juga berpengaruh, anak-anak zaman sekarang lebih banyak disibukkan dengan gadget dan televisi.

Tempat Ruqyah

Tempat Ruqyah
Sumber : Pixabay

Orang tua saya selain mengajari anak-anak kecil mengaji, beliau juga sering diminta orang-orang untuk mengobati dari gangguan-gangguan jin. Kebetulan beliau pernah belajar ruqyah beberapa kali, walaupun belum dibilang ahli pada waktu itu, tapi setelah dijalani beberapa waktu, alhamdulillah banyak orang yang sembuh dengan wasilah (perantara) beliau.

Setelah ada beberapa orang yang sembuh dengan perantara beliau, mulailah berita menyebar, sehingga orang-orang pun makin banyak yang berdatangan ke rumah untuk di ruqyah. Terkadang hampir setiap hari ada saja orang yang datang minta di ruqyah.

Pernah suatu saat rumah saya dijadikan tempat ruqyah massal. Ketika itu guru orang tua saya bersama teman-temannya, datang dari Bandung ke Cirebon untuk mengadakan ruqyah massal di rumah saya.

Ketika itu pasien-pasien ruqyah yang datang lumayan banyak. Yang bisanya saya hanya melihat satu orang kesurupan di satu waktu, kali ini berbeda, teriakan orang kesurupan ada dimana-mana. Waktu itu saya masih berusia sekitar 8-9 tahun, lumayan sebagai tontonan bagi anak seusia saya.

Kejadian-kejadian lucu ketika ruqyah berlangsung pun ada beberapa dan sedikit aneh bagi saya. Ketika di ruqyah biasanya jin secara umum selalu kepanasan kalau dibacakan ayat-ayat Alqur’an, tapi kali ini ada salah satu pasien yang jin didalamnya menggigil kedinginan, cukup aneh, waktu itu saya hanya sedikit heran dan ketawa saja 😀 .

Ada juga kejadian teman saya yang diancam akan dibunuh oleh jin. Ketika itu ada orang tua pasien yang datang, menanyakan bagaimana kabar anaknya, teman saya menjawab dengan nada sedikit kencang, inti kalimatnya dia mengatakan, jinnya galak susah keluar.

Seketika teriakan kencang dari jin tersebut terdengar, sambil menunjuk teman saya dan sedikit bangun “Saya bunuh kamu”. Ketika itu juga teman saya yang masih berusia sekitar 10 tahun sedikit lari dan ketakutan. Tapi setelah itu dia ditenangkan oleh orang tua saya dan tidak terjadi apa-apa.

Dan sampai sekarang masih ada orang yang datang ingin di ruqyah.

Sarang Perkumpulan

Sarang Perkumpulan
Sumber : Pixabay

Rumah saya dulu selain di jadikan tempat sholat, ngaji dan ruqyah di sana juga dijadikan sebagai tempat perkumpulan semua orang. Khususnya teman-teman saya, bukan hanya di waktu mengaji malam saja mereka berkumpul disitu, tapi di siang hari juga.

Kebetulan di samping rumah ada sepetak tanah yang sedikit bersih dari pepohonan, disinilah kami bermain setiap hari. Dan rumah saya ini dijadikan seperti rumah milik bersama, teman-teman main pun kadang suka bolak-balik di dalam rumah, main-main di dalam dll, karena waktu itu juga rumah masih beralaskan tanah.

Orang tua juga kalau menyediakan air minum di rumah selalu banyak, karena anak-anak yang main disini minumnya disediakan di dalam rumah.

Tapi berhubung sekarang saya dan teman-teman sepermainan dulu sudah besar-besar, kini suasana seperti itu sudah tidak ada lagi.

Dan pergaulan kami semua pun terpisah semenjak saya memasuki sekolah MTS di pondok pesantren. Orang tua saya sedikit khawatir kalau anak-anaknya di sekolahkan di daerah sekitar karena pergaulan yang cukup rusak, kalau kurang pengawasan dari orang tua.

Itulah sedikit cerita dari saya, berbagi pengalaman tentang Kenangan Rumah Masa Kecil, semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Leave a Reply